Beberapa hari yang lalu saya dan teman-teman sekolah sempat mengunjungi salah satu tempat yang mungkin bisa dikatakan terindah pada jejeran tempat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Yaitu Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo merupakan sebuah danau gunung di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Letaknya di Pegunungan Tengger, di kaki Gunung Semeru, dan memiliki luas mencapai 15 hektare.
Awal mula perjalanan kami kesini sebenarnya hanya berawal dari guyonan. Salah satu teman saya @kentir.asf dan saya bercanda tentang pendakian gunung traveling, dsb. Kami juga sempat diiming-iming oleh beberapa teman kami yang sudah pernah kesini sebelumnya, bahkan telah sampai puncak "Mahameru", WAW.
Nah, candaan kami didengar oleh salah satu teman kami yang sudah pernah kesana @imamiyah06, dan ia mengajak kami untuk kesana bersama teman kelas lainnya, sebagai pengisi waktu di momen" terakhir masa SMA, huhuhu. Karena perbekalan, persiapan, budget, yang belum ada, dan juga waktu yang mepet. Sempat membuat saya undur diri dari trip ini. Eh, gak taunya tiba" hujan rezeki membanjiri saya, dan juga teman saya yang juga merupakan anggota PA "Pecinta Alam" ini meminjam berbagai perlengkapan untuk perjalanan nanti. Hati pun saya mantabkan dan persiapan lain seperti fisik dan mental juga mulai saya persiapkan.
Maap ane masih pemula, ranukumbolo aja persiapannya ribet amat, hehe...
Setelah waktu keberangkatan ditentukan, pemesanan/pembelian tiket masuk, persiapan surat kesehatan, dll. Kami pun menunggu hari keberangkatan kami ke Ranu Kumbolo. Di sela" waktu ini saya juga selalu mendapatkan ide-ide, inspirasi, berbagai ekspektasi di perjalanan nanti akan seperti apa. Saya berencana membuat film pendek dokumenter kelas, dan juga hunting beberapa di spot yang sudah saya survei dari internet. Wah pokoknya semangat menggebu-gebu deh.
Semalam sebelum keberangkatan kami semua packing barang dan perlengkapan bersama di salah satu rumah teman kami @gheynaaa. Di sana kami juga beristirahat dan makan malam untuk persiapan berangkat esok pagi. Oh ya, total rombongan kami ada 16 orang. Kami berangkat dengan 2 mobil yang dibawa oleh teman kami sendiri @aldifajar191 @haryo_kavad.
Jam 3 pagi kami berangkat dari Jember, menuju Lumajang. Malam itu kami hampir tidak tidur sama sekali, karena "HERI" alias heboh sendiri mempersiapkan segala hal. Untungnya tiap" mobil memiliki asisten driver @nandaxx, dan @hendracr, haha. Perjalanan darat mulai susah saat kami mulai mendekati desa Ranu Pani, yaitu desa terakhir bagi para pendaki sebelum mendaki ke "Mahameru". Jalannya super sekali, tikungan tajam dan juga terjal. Parahnya lagi, kami merasa jalan tersebut panjang sekali dan tidak sampai-sampai, hingga teman saya semobil @endryan.pratama sempat mengalami mual, hahaha.
Sesampainya di desa Ranu Pani, kami disambut pemandangan desa yang berbukit-bukit seperti dalam kartun Teletubbies, dan juga udara sejuk yang menusuk menembus pakaian kami. Saya sendiri sempat kedinginan disana, akhirnya sayapun berburu sinar matahari disana, hehe. Di sana saya juga membeli beberapa perlengkapan tambahan yang mungkin berguna saat perjalanan.
Jam 11 pagi kami diberi pengarahan "briefing" oleh tim relawan yang sudah berpengalaman di sana. Ternyata melakukan pendakian tidaklah sesimpel yang saya bayangkan, kelengkapan surat", pantangan" saat mendaki, dan yang terpenting kita harus selalu menjaga alam, dan kebersihan. Apabila melanggar akan dikenai sanksi tegas oleh penduduk sekitar juga tim relawan.
Perjalananpun dimulai, perjalanan awal tidaklah terasa berat bagi kami, tetapi salah satu teman kami @ciinnntyaaaaa yang memiliki berat tubuh diatas rata" mulai terlihat terengah-engah, eh maap cin... Kami pun mulai khawatir dan kami langsung melakukan rencana B yaitu, rombongan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berangkat terlebih dahulu agar cepat sampai dan mendirikan tenda. Kelompok kedua di belakang perlahan menyusul kelompok pertama.
Perjalanan menuju ranukumbolo cukup panjang. Kita diharuskan melalui 4 pos, dan waktu pendakian normal sekitar 5 jam. Saat perjalanan menuju pos pertama @ciinnntyaaaaa terengah-engah, tapi saya dan teman" selalu menyemangatinya, dan meyakinkannya bahwa dia bisa. Satu persatu teman di rombongan kedua mulai mendahului. Hingga akhirnya tersisa 5 orang terakhir di rombgongan kami yaitu saya, @ciinnntyaaaaa, @nandaxx, @alfarrazzaqkr, dan @imamiyah06. Perjalanan menuju pos pertama ini lumayan menanjak tapi mungkin inilah trek terpanjang saat menuju Ranu Kumbolo.
Saat sampai di pos pertama, kami berlima mulai lega dan bisa beristirahat, walaupun kami tidak menemui teman rombongan lainnya disana, karena mereka sudah berangkat terlebih dahulu. Setelah beristirahat kami berangkat lagi, kami berempat mulai khawatir terhadap @ciinnntyaaaaa, karena mulai terlihat kelelahan. Menuju ke pos dua tak terlalu jauh, maka dari itu kami tak begitu kelelahan.
Sesampai di pos dua, kami hanyalah beristirahat sebentar, dan langsung melanjutkan perjalanan menuju pos 3, karena waktu mendaki hampir melewati batas normal. Saat itu pula kami mulai merasa kelelahan, namun kami yakinkan diri kami untuk tidak saling mendahului, dan tetap bersama membantu @ciinnntyaaaaa. Saat menuju pos tiga ada salah satu tempat yang unik di jalur pendakian, yaitu "Jembatan Merah". Jembatan ini disebut "Jembatan Merah" karena dicat berwarna merah. Konon katanya disini sering kali terjadi penampakan sosok halus, grr. Tapi kami semua sebelum memulai pendakian sudah meyakinkan hati dan pikiran, untuk terus berpikir positif, dan alhasil disana tidak terjadi apa-apa. Kami malah menikmati pemandangan yang disuguhkan dari "Jembatan Merah".
Tak lama setelah itu kami sampai di pos ketiga. Disana kami bertemu beberapa "Porter" yang beristirahat menunggu rombongan yang menyewanya. Kami bercengkrama dan bergurau. Mereka sangatlah baik. Mereka memberi beberapa arahan kepada kami, motivasi, dan juga beberapa camilan. Disana kami beristirahat cukup lama karena @ciinnntyaaaaa sudah kelelahan. Sempat dia pesimis tetapi kami tetap menyemangatinya. Kami beristirahat lama karena trek yang akan kami lalui dari pos 3 ke pos 4 sangatlah terjal dan mungkin trek yang paling menguras tenaga saat menuju "Ranu Kumbolo".
Kami pun berangkat menuju ke pos 4. Hari juga mulai gelap, dan kami hanya memiliki sedikit penerangan, karena penerangan lainnya berada di tas elektronik, dan senter SWAT saya juga berada di tas saya yang dibawa oleh rombongan teman yang mungkin sudah sampai di "Ranu Kumbolo". Di tengah kegelapan kami tidak menemukan pendaki lain, hanya kami berlima. @ciinnntyaaaaa juga sudah tertatih-tatih. Tetapi di sepanjang jalan kami disuguhi cahaya bintang" yang tampak terang berbintik-bintik di angkasa. Hal itu membuat kami lebih bersemangat.
Pertengahan jalan menuju pos 4, cahaya tenda-tenda di ranukumbolo mulai terlihat, menandakan kami sudah dekat dengan tujuan. Tiba-tiba kami mendengar suara di belakang, kami berhenti sejenak dan ternyata mereka adalah rombongan pendaki dari beberapa daerah. Lalu mereka berangkat bersama kami. @nandaxx dan @alfarrazzaqkr menjadi penunjuk jalan, karena mereka sudah pernah ke "Ranu Kumbolo". Saat perjalanan itu pula saya mengalami hal yang paling tidak bisa saya lupakan. Entah mungkin saya bengong atau apa, saya menabrak batang kayu yang cukup besar, dan itu membuat saya sedikit pusing, hehehe...
Tibalah kami di pos 4, tetapi kami langsung melanjutkan perjalanan karena khawatir terjadi sesuatu di tengah kegelapan begini. Saat itu juga merupakan saat yang membuat saya khawatir, saat @ciinnntyaaaaa sesak napas. Tetapi syukur, kami bisa mengatasinya bersama. Kami melalui satu bukit lagi dan sampailah kami di camp site "Ranu Kumbolo" tepat pukul 7 malam ( Pendakian mulai dari jam 11 pagi - 7 malam ). Kami disana berkumpul lagi dengan rombongan, beristirahat, dan juga mengatasi beberapa masalah. Huh, susah memang, tapi kenangan seperti ini takkan terlupakan, hehe. Kami juga membuat rencana baru untuk perjalanan pulang. Malam itu sangatlah dingin, meski saya tidur dengan sleeping bag di dalam tenda, saya masih saja merasa kedinginan.
Keesokan saya bangun dan keluar tenda. Saat itu pula ide liar saya bergejolak. Kami semua disuguhkan pemandangan "Ranu Kumbolo" yang masih berselimut kabut. Udaranya yang sejuk, menusuk menembus pakaian kami. Saya langsung cepat-cepat mengambil kamera dan mulai mencari beberapa titik spot yang sudah saya impikan, hoho. Kabut kala itu menjadi momen yang pas untuk komposisi foto moody. Saya, @alfarrazzaqkr, @nandaxx, dan @kentir.asf pun beraksi, sesi hunting pun dimulai. berikut hasil beberapa foto kami, meskipun masih jauh dari ekspektasi, huh.
Setelah kabut mulai menghilang, Teman-teman yang lain pun mulai berfoto ria dengan background indah "Ranu Kumbolo". Saat itu juga saya menyadari betapa indahnya tempat ini. Airnya yang segar dan jernih, serta sangat dilindungi kebersihannya. Barisan pepohonan yang EPIC, serta lekukan-lekukan bukit yang menawan, seketika mengetuk hati saya untuk bersyukur, karena bisa menikmati suatu ciptaan Tuhan yang begitu indah.
Setelah dipikir-pikir lagi saya juga tidak rugi meski banyak ekspektasi saya tak sesuai realita. Saya bisa langsung bereksperimen dengan kamera di alam bebas, mempelajari banyak komposisi, dan juga cara kerja kamera secara manual lebih dalam lagi. Banyak juga pelajaran hidup yang bisa saya ambil dari perjalanan ini.
Petualangan mungkin akan menyakitimu. Tapi, terjebak dalam rutinitas yang tidak kau sukai, akan membunuhmu perlahan. Terkadang, kita hanya perlu menghilang.
By Fiersa Besari
Jam 9 pagi kami mulai prepare untuk perjalanan pulang. Kami mulai meringkas tenda, barang bawaan, bekal, dan perlengkapan lainnya, oh ya kami juga memastikan semua sampah terbawa dan tak tertinggal, sehingga tidak mencemari alam di "Ranu Kumbolo", mengingat danau ini dianggap sebagai tempat sakral bagi beberapa golongan. Kita harus ingat bahwa masyarakat indonesia memiliki berbagai Agama dan Keyakinan, dan sudah seharusnya kita saling menghargai satu sama lain. Bukti bahwa danau ini dianggap sakral adalah adanya prasasasti di sana. Sayangnya saya tak sempat mengabadikannya.
Sekitar jam 10 atau jam 11 pagi kami berfoto bersama lalu pulang. Perjalanan pulang lebih ringan tetapi tetap @ciinnntyaaaaa terlihat ngos-ngosan, hehe... Tapi @ciinnntyaaaaa termasuk hebat loh, bisa mengatasi batasan fisik dan mentalnya, akhirnya sampai dan selamat sampai rumah, yey!!
Perjalanan EPIC ini akan selalu saya kenang. Kenangan di akhir masa SMA yang mungkin tidak akan terulang lagi. Tempat ini yang menjadi saksi bisu kebersamaan kita @armadasmada.
Semangat terus ARMADA!! Kejar terus impianmu!! Jangan takut gagal!! Jangan berhent bermimpi!!
Karena kegagalan yang sesungguhnya adalah dimana saat kita berhenti bermimpi.
ARMADA HORAAASSSS!!






